Jumat, 05 Januari 2024

MENCINTAI SAUDARA KITA DI PALESTINA

KHUTBAH JUMAT


MENCINTAI SAUDARA KITA DI PALESTINA_*


*_Oleh : Ustadz Qodri Fathurrohman_"

_(Ketua Yayasan Pendidikan dan Pembinaan Umat An-Nuur)_


*_KHUTBAH PERTAMA_*


إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ


أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ


وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ


قال اللَّه تعالى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ


يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا


 فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ. أَمَّا بَعْدُ



Bersyukur kepada Allah ﷻ, yang masih berkenan memberikan curahan nikmat luar biasa kepada kita semua. Semoga dengan senantiasa bersyukur kepada Allah ﷻ, nikmat-nikmat yang ada pada kita akan langgeng, bertambah, dan menjadi berkah.


Selanjutnya shalawat dan salam kita haturkan kepada uswatun hasanah, teladan yang baik, junjungan kita, Nabi Muhammad ﷺ. Semoga juga tersampaikan kepada para sahabat beliau, tabiin, tabiut tabiin, serta orang-orang yang istiqomah hingga akhir zaman nanti.


Semoga kita semua termasuk umatnya yang mendapat syafaat beliau pada hari ketika tidak ada syafaat melainkan atas izin-Nya.


Berikutnya, khatib berwasiat kepada diri pribadi khatib dan hadirin sekalian. Untuk senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah ﷻ. Karena takwa adalah sebaik-baik bekal di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Baqarah 197, “Dan berbekalah kalian semua, dan sebaik-baik bekal adalah takwa.”


*_Hadirin sidang Jum’at yang dirahmati Allah._*


Siang ini ketika berada di luar, kita akan merasakan begitu teriknya sinar matahari. Padahal jarak antara bumi dan matahari kurang lebih sejauh 150 juta kilometer. Dengan jarak sedemikian saja, panas matahari masih sangat terasa menyengat di kulit kita.


Maka, sungguh tak terbayangkan bagaimana rasa panasnya terik matahari di padang mahsyar kelak ketika Allah ﷻ mendekatkan matahari di atas kepala manusia. 


Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa jarak antara manusia dengan matahari kala itu sejarak satu mil. Ada yang mengatakan bahwa mil itu adalah alat untuk celak mata, dan ada pula yang menyatakan bahwa itu jarak perjalanan yaitu sekitar satu setengah kilo meter.


Rasulullah ﷺ bersabda, “Pada hari kiamat, matahari didekatkan jaraknya terhadap makhluk hingga tinggal sejauh satu mil.” Sulaim bin Amir (perawi hadits ini) berkata, “Demi Allah, aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan mil. Apakah ukuran jarak perjalanan, atau alat yang dipakai untuk bercelak mata?” 


Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Jarak satu mil ini, baik satu mil yang biasa atau mil alat celak, semuanya dekat.”


Kemudian jika ada yang bertanya, kenapa di akhirat kelak matahari didekatkan dengan jarak satu mil namun makhluk tidak terbakar? Para ulama menjelaskan bahwa pada hari Kiamat kelak tatkala manusia dikumpulkan di padang mahsyar, kekuatan mereka tidaklah sama dengan kekuatan mereka ketika hidup di dunia.


Akan tetapi, tetap saja manusia pada hari itu bercucuran keringat karena merasakan panas yang sangat menyengat. 


Nabi ﷺ bersabda, “Sehingga manusia tersiksa dalam keringatnya sesuai dengan kadar amal-amalnya (yakni dosa-dosanya). Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kakinya. Ada yang sampai kedua lututnya, dan ada yang sampai pinggangnya, serta ada yang tenggelam dalam keringatnya.”


Rasulullah ﷺ memberikan isyarat dengan meletakkan tangan ke mulut beliau.” (Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2864)


*_Hadirin sidang Jum’at yang dirahmati Allah._*


Pada kondisi tersebut, ada di antara manusia yang mendapatkan naungan dari Allah ﷻ ketika tidak ada naungan kecuali naungan dari-Nya. Siapakah mereka? Salah satu golongan tersebut adalah mereka yang senantiasa cinta mencintai karena Allah ﷻ.


Pada hari kiamat nanti mereka akan mendapatkan perlindungan dari Allah ﷻ dari panasnya sinar matahari di padang Mahsyar. Allah ﷻ akan menyeru 


أينَ المُتَحَابُّونَ فِي جَلَالِي؟


“Dimana orang-orang yang saling mencintai karena Aku (Allah ﷻ)?”


الْيَوْمَ أُظِلُّهُمْ فِي ظِلِّي، يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلِّي


“Pada hari ini aku akan berikan kepada mereka naungan, di hari ini tidak ada naungan kecuali naungan-Ku.”


Pada hari Kiamat, Allah ﷻ akan memuliakan orang-orang yang mencintai sesama karena-Nya. Mereka tidak memiliki hubungan darah ataupun keluarga, satu-satunya ikatan yang menyatukan mereka adalah iman kepada Allah ﷻ.


Dalam sebuah riwayat dikisahkan tentang seorang lelaki yang sedang dalam perjalanan berkunjung ke rumah saudaranya seiman. Di tengah perjalanan, lelaki itu dihadang oleh Malaikat yang menyerupai manusia dengan pertanyaan, “Hendak kemana Anda?”


“Aku hendak mengunjungi saudaraku sesama muslim,” jawab lelaki itu.


“Apa kamu mempunyai keperluan dengannya?” selidik Malaikat lebih jauh.


Maka sungguh hal yang wajar jika seseorang melakukan perjalanan jauh karena memiliki keperluan dengan temannya. Namun, jawaban orang ini sungguh di luar dugaan.


“Tidak, aku tidak memiliki keperluan. Aku hanya ingin mengunjunginya. Aku mencintainya karena Allah ﷻ,” jawab lelaki itu tersenyum.


Malaikat heran sekaligus takjub mendengar jawaban lelaki itu. Malaikat itu pun kemudian mengungkap jati dirinya.


“Sesungguhnya aku ini adalah Malaikat yang diutus untuk memberitahumu bahwa Allah ﷻ senantiasa mencintaimu, sebagaimana kamu mencintai saudaramu karena Allah ﷻ.” 

Orang-orang yang saling mencintai karena kemuliaan Allah ﷻ akan berada di atas mimbar-mimbar cahaya, dikagumi oleh para nabi dan para syuhada. (HR. Tirmidzi no. 2390)


*_Ikhwanu fiddin jamaah shalat Jum’at yang dirahmati Allah._*


Dalam sejarah, kita bisa melihat bagaimana kecintaan para sahabat terhadap sahabat muslim lainnya karena Allah. Terutama kaum Anshar dengan kaum Muhajirin.


Kala itu, kaum muslimin terusir dari Mekah, dan mereka pun pergi berhijrah dari Mekah menuju Madinah sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Mereka mengorbankan segalanya: harta benda, saudara, keluarga, pekerjaan, bahkan tanah kelahiran mereka, semata karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.


Tidak ada perbekalan yang banyak kecuali hanya pakaian yang melekat di tubuh dan bekal yang ada di tangan mereka. 


Setiba di Madinah, langkah pertama yang diambil Rasulullah ﷺ adalah mendirikan Masjid dan mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar. Salah satu kisah istimewa pada peristiwa ini adalah kisah Abdurrahman bin Auf yang dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi’.


Sa’ad bin Rabi’, yang kaya raya, dengan tulus menawarkan sebagian besar harta miliknya kepada Abdurrahman bin Auf. 


Sa’ad berkata kepadanya, “Aku adalah salah satu dari Anshar yang memiliki harta paling berlimpah. Ambillah separuh dari kekayaanku, yang mana bisa dibagi menjadi dua bagian. Aku juga memiliki dua istri, maka lihatlah mana yang engkau pilih, agara aku bisa menceraikannya. Setelah masa iddahnya berakhir, kalian bisa menikah.” 


Dengan penuh rela, karena cinta kepada Allah ﷻ, ia membagi harta yang dimilikinya menjadi dua bagian, setengah untuk dirinya dan setengah lagi untuk Abdurrahman bin Auf, bahkan sampai rela menceraikan istrinya.


Mendapat penawaran tersebut, dengan tulus Abdurrahman bin Auf menjawab, “Semoga Allah ﷻ memberkahi keluarga dan harta yang engkau miliki. Wahai saudaraku, akan lebih baik jika engkau menunjukkan kepada kami pasar-pasar yang biasa kalian kunjungi.”


Ini adalah contoh yang begitu indah tentang persaudaraan yang didasari oleh rasa cinta kepada Allah ﷻ.


*_Hadirin sidang Jum’at yang dirahmati Allah._*


Hingga hari ini, di Palestina, di Gaza, saudara-saudara kita masih merasakan luka yang dalam. Mereka terisak, menangis, berteriak memohon pertolongan kepada seluruh manusia di muka bumi, terutama kaum muslimin.


Keluarga dekat mereka, bapak ibu mereka, meninggal dunia tepat di depan mata. Keluarga besar mereka satu persatu meninggalkan mereka untuk selamanya. Ada yang hidup sebatang kara, tidak punya bapak, tidak punya ibu, tidak punya saudara.


Sudah yatim piatu, mereka masih terluka tubuhnya, terluka hatinya. Oleh sebab itu, dukungan dan pertolongan dari kaum muslimin dan manusia di seluruh dunia sungguh sangat mereka butuhkan.


Hingga hari ini, kekejaman dan kebiadaban Zionis laknatullah ‘alaihi telah memakan korban jiwa hingga lebih dari 20 ribu manusia yang kebanyakan dari mereka adalah anak-anak dan wanita. Inilah tindakan keji mereka.


Sebagai umat Muslim, meski tanpa ikatan darah, kerabat, atau bahkan negara yang jauh di sana, dengan kecintaan kita kepada Allah ﷻ, dengan kecintaan kita kepada mereka karena Allah ﷻ, maka mari kita membantu mereka semampu kita.


Dengan harta yang dimiliki, dengan doa-doa yang dilantunkan, kita berharap dari sekian banyak doa kita yang menembus langit, semoga Allah ﷻ mengabulkan salah satu doa di antara kita untuk rakyat Palestina.


Dengan jari jemari kita, mari kabarkan kepada dunia tentang kebiadaban Zionis Israel laknatullah ‘alaihi melalui berbagai media sosial yang ada. Bersama, kita tunjukkan kepedulian pada saudara kita yang menderita di Palestina.


Agar dunia melihat dan sadar, bagaimana orang-orang Yahudi Zionis Israel telah dan terus berlaku biadab. Inilah jalan juang kita, inilah salah satu bentuk jihad kita di jalan Allah yang bisa untuk dilakukan.


*_Ikhwanu fiddin jamaah shalat Jum’at yang dirahmati Allah._*


Dari 20 ribu lebih korban jiwa di Palestina, mereka insyaAllah memiliki tempat yang mulia di sisi Allah ﷻ. InsyaAllah mereka termasuk dalam golongan syuhada yang tak akan merasakan siksa kubur dan akan dimasukkan ke dalam surga tanpa dihisab.


Tentu saja, kita semua berharap bisa menjadi bagian dari mereka. 


Rasulullah ﷺ telah menyampaikan bahwa pada hari Kiamat, akan ada sekelompok manusia yang diberi kedudukan istimewa di sisi Allah. Hingga para nabi pun iri terhadap kedudukan mereka.


Mereka berdiri di atas mimbar yang bersinar, wajah mereka bercahaya, bebas dari kesedihan dan ketakutan. Mereka adalah orang-orang yang mencintai dan dicintai karena Allah ﷻ.


Meskipun jasad kita tidak bisa sampai ke Palestina untuk memberikan bantuan langsung kepada saudara-saudara kita di sana, namun harta kita, penyampaian berita kepada dunia, dan doa kita di waktu-waktu yang mustajab, semoga itu semua menjadi bagian dari rasa cinta kepada mereka karena Allah ﷻ.


Mereka adalah Muslim seperti kita, mereka shalat menghadap kiblat seperti kita, mereka membaca Al-Qur’an seperti kita, dan mereka lah berjuang mempertahankan Masjid suci umat Islam, Masjidil Aqsha.


Meskipun belum mampu berjuang sekuat yang mereka lakukan, insyaAllah kita akan bisa meraih pahala yang semisal dengan mereka, dan mendapatkan tempat istimewa di sisi Allah ﷻ jika mampu mencintai mereka karena Allah ﷻ. Di dalam hati ini, mari ikrarkan bahwa mereka adalah saudara kita. 


Jangan sampai ada kata yang menyakitkan hati atau bahkan fitnah yang keluar dari mulut kita. Sudah cukup mereka terluka. Maka sungguh sangat disayangkan apabila masih ada di antara kaum muslimin yang dengan keras hati tidak peduli kepada kaum muslimin di Palestina.


Semoga cinta kita kepada mereka akan berbuah manis pada hari Kiamat nanti. Semoga Allah ﷻ memberikan tempat yang mulia kepada kita, meskipun belum mampu berjuang sekuat mereka.


باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآياَتِ وِالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ بِتِلاَوَتِهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمِ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ


*_KHUTBAH KEDUA_*


اَلْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ


فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوْا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ


وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِى يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ


وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ


اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ


رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ


رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ


اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيْلِكَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ نَصْرًا مُؤَزَّرًا، اَللَّهُمَّ ارْبِطْ عَلَى قُلُوْبِهِمْ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ


رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار


سُبْحاَنَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ


عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْ

_JANGAN REMEHKAN AMALAN KECIL_

 *_KHUTBAH JUMAT_*


*_JANGAN REMEHKAN AMALAN KECIL_*


*_KHUTBAH PERTAMA_*


إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

فَيَا عِبَادَ اللهِ اُوْصِيْنِي نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

وَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِتَّقِ اللهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.


*_Kaum muslimin yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala_*


Pertama, marilah kita senantiasa bersyukur atas nikmat usia dan amal saleh yang telah Allah berikan kepada kita semua. Semoga dengan kedua nikmat ini, kita termasuk sebaik-baik manusia yang Rasulullah sabdakan dalam hadits riwayat at-Tirmidzi nomor 2330, yaitu


مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ.


“Siapa yang panjang umurnya dan baik perbuatannya.”


Kedua, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi agung, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah membawa ajaran Islam dari urusan terkecil hingga urusan terbesar. Semuanya merupakan rahmat dan kebaikan bagi setiap manusia.


Ketiga, di sini khatib mewasiatkan kepada diri pribadi dan kepada para jamaah shalat Jumat sekalian, agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wata’ala. Karena sebaik-baik bekal kita menuju Allah subhanahu wata’ala adalah bekal ketakwaan.


Amalan Kecil Pemberat Timbangan Pahala dan Dosa


*_Kaum muslimin yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala_*


Sungguh para salaf atau orang-orang saleh terdahulu memiliki prinsip dalam beramal saleh, yaitu mereka tidak pernah meremehkan amalan kecil apa pun karena hal itu termasuk al-makruf atau kebajikan.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, dalam hadits riwayat Muslim no. 2626,


لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوْفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ.


“Janganlah engkau memandang rendah sedikit pun suatu kebajikan, walaupun sekadar bertemu saudaramu dengan wajah berseri-seri.”


Tidak hanya hadits tersebut, bahkan dalam riwayat lain Rasulullah menegaskan bahwa amalan remeh semisal berbicara dengan senyum pun termasuk al-makruf. Sebagaimana dalam hadits riwayat Abu Dawud no. 4084,


وَلَا تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنْ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ الْمَعْرُوفِ


“Janganlah engkau memandang remeh perkara makruf. Berbicaralah dengan saudaramu dengan wajah penuh senyum dan berseri-seri sebab itu termasuk perkara makruf.”


*_Kaum muslimin yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala_*


Kedua hadits tersebut secara tegas menjelaskan agar kita tidak meremehkan amalan baik sekecil apa pun. Karena bisa jadi, amal kecil tersebut Allah ridhai dan menjadi sebab kita masuk ke dalam surga Allah subhanahu wata’ala.


Hal ini sebagaimana hadits riwayat al-Bukhari no. 3143 dan Muslim no. 2245, yang mengisahkan tentang seorang pelacur yang diampuni oleh Allah subhanahu wata’ala lantaran memberi air minum seekor anjing.


Rasulullah bersabda dalam redaksi al-Bukhari,


غُفِرَ لِامْرَأَةٍ مُومِسَةٍ مَرَّتْ بِكَلْبٍ عَلَى رَأْسِ رَكِيٍّ يَلْهَثُ، قَالَ: كَادَ يَقْتُلُهُ الْعَطَشُ، فَنَزَعَتْ خُفَّهَا، فَأَوْثَقَتْهُ بِخِمَارِهَا، فَنَزَعَتْ لَهُ مِنَ الْمَاءِ، فَغُفِرَ لَهَا بِذَلِكَ


“Telah diampuni seorang wanita pezina. Sebab ia pernah melewati seekor anjing di dekat sebuah sumur yang sedang menjulurkan lidahnya dalam kondisi hampir mati kehausan. Wanita pelacur tersebut segera melepas sepatunya dan mengikatnya dengan kerudungnya, kemudian ia mengambil air dari sumur itu. Karena perbuatannya itulah dosa-dosanya diampuni.”


Sebaliknya, kita pun tidak boleh meremehkan perbuatan buruk sekecil apa pun. Karena bisa jadi, perbuatan itu mengundang murka Alllah dan menjadi sebab kita diseret ke dalam neraka Allah subhanahu wata’ala.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya terkait seseorang yang rajin beribadah kepada Allah, namun sering menyakiti tetangga dengan lisannya. Maka Rasulullah pun mengabarkan bahwa ia termasuk penghuni neraka.


Rasulullah bersabda, hadits riwayat al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, nomor 119,


قِيْلَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا رَسُوْلَ اللَّهِ إِنَّ فُلَانَةً تَقُوْمُ اللَّيْلَ وَتَصُوْمُ النَّهَارَ وَتَفْعَلُ وَتَصَدَّقُ، وَتُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا خَيْرَ فِيْهَا ‌هِيَ ‌مِنْ ‌أَهْلِ ‌النَّارِ.


Dikatakan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya fulanah rajin mengerjakan shalat malam dan berpuasa sunah di siang hari, dia juga gemar mengerjakan kebaikan dan bersedekah. Namun, ia sering menyakiti tetangganya dengan lisannya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak ada kebaikan padanya, ia termasuk penghuni neraka.”


Lebih dari itu, Rasulullah juga pernah menggambarkan bahwa ada seseorang yang dimasukkan ke dalam neraka lantaran seekor kucing, yaitu karena ia mengurung kucing tersebut hingga mati kelaparan.


Rasulullah bersabda, hadits riwayat al-Bukhari no. 3295 dan Muslim no. 2242,



عُذِّبَتِ امْرَأَةٌ فِي هِرَّةٍ سَجَنَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ فَدَخَلَتْ فِيهَا النَّارَ. لَا هِيَ أَطْعَمَتْهَا وَلَا سَقَتْهَا إِذْ حَبَسَتْهَا، وَلَا هِيَ تَرَكَتْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الْأَرْضِ.


“Ada seorang wanita yang diazab lantaran mengurung seekor kucing hingga kucing itu mati. Karena itulah ia dimasukkan ke dalam neraka. Kucing itu dikurungnya tanpa diberikan makan dan minum, tidak juga dilepaskan sehingga dapat memakan serangga-serangga bumi.”


Semua hal ini menunjukkan kepada kita bahwa kita tidak boleh meremehkan amalan kecil, sekecil apa pun itu. Jika amalan tersebut merupakan kebaikan maka marilah kita laksanakan, dan jika itu keburukan maka marilah kita tinggalkan.


Kelak di akhirat kita akan mendapatkan balasan dari amalan kita selama di dunia, sekecil apa pun itu. Allah subhanahu wata’ala berfirman, dalam al-Quran Surat Az-Zalzalah: 7—8,


فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ


“Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya. Siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya.”


Kisah Inspiratif Abu Mansur al-Khayyath

Kaum muslimin yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala


Marilah kita mengambil pelajaran dari kisah Abu Mansur al-Khayyath. Abu Mansur al-Khayyath adalah seorang ulama yang menghabiskan hidupnya untuk ta’limul qur’an (mengajarkan al-Quran).


Allah mengaruniainya umur yang panjang, yaitu 98 tahun, dari kelahirannya tahun 401 H hingga tahun 499 H beliau wafat.


Karena keistimewaan Abu Mansur al-Khayyath ini, Imam adz-Dzahabi dalam kitabnya Siyar A’lam an-Nubala`, vol. 14, halaman 212, menggelarinya dengan sebutan al-Imam al-Qudwah ‘imam teladan’, al-Muqri` ‘pengajar al-Quran’, Syaikhul Islam ‘ulama besar’, dan az-Zahid ‘ahli zuhud’. Hal ini menunjukkan akan keluasan ilmu dan kesungguhan beliau dalam mengajarkan al-Quran.


Untuk itulah, Abu Mansur al-Khayyath memiliki murid yang sangat banyak hingga mencapai 70 ribu murid yang telah belajar al-Quran bersamanya.


Sehingga tatkala beliau wafat, lautan manusia mengiringi jenazahnya hingga ke liang lahad. Sampai-sampai ada seorang Yahudi yang masuk Islam karena takjub dengan banyaknya orang yang mengiringi jenazah beliau. La haula wala quwata illa billah.


Lebih menariknya lagi, Imam adz-Dzahabi menyebutkan bahwa as-Sam’ani, sabahat Abu Mansur al-Khayyath, mengatakan bahwa ia bermimpi melihat Abu Mansur al-Khayyath berkata, “Sungguh Allah telah mengampuniku karena aku mengajarkan al-Fatihah kepada seorang anak kecil.”


Masyaallah. Amalan yang seakan remeh, hanya mengajarkan al-Fatihah kepada seorang anak kecil, namun dapat mendatangkan ampunan Allah.


*_Kaum muslimin yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala_*


Demikianlah khutbah Jumat tentang pentingnya tetap memerhatikan amalan kecil yang dapat kami sampaikan. Semoga menjadi renungan bagi kita semua untuk tidak meremehkan perbuatan sekecil apa pun. Karena bisa jadi perbuatan tersebut mengundang ridha ataupun murka Allah subahanahu wata’ala.


Semoga Allah senantiasa menjaga dan menerima segala amal perbuatan kita semua, amin ya Rabb.


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.


*_KHUTBAH KEDUA_*


إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ.


أَمَّا بَعْدُ.


فَيَا عِبَادَ اللهِ اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.


قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.


إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيمًا.


اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.


رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا.


اَللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.


رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.


اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ.


اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ.


اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ حُكَّامًا وَمَحْكُوْمِيْنَ، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَاهُمْ، وَفُكَّ أَسْرَانَا وَأَسْرَاهُمْ، وَاغْفِرْ لِمَوْتَانَا وَمَوْتَاهُمْ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.


رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.


عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ، وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.


Sumber : dakwah.id

 https://t.me/MateriKhutbahJumatAbuTsabit


🇮🇩🇮🇩🇮🇩

NADHOM GUSTI URANG SAREREA

NADHOM GUSTI URANG SAREREA Gusti urang sarerea,  Kangjeng Nabi anu mulya Muhammad Jenengannana,  Arab Qurais nya Bangsana. Ramana Gusti Abdu...